Pengertian Disruption, Pengaruh, dan Cara Menghadapi

Teknatekno.com – Hai Teknozen! Pernahkah kamu mendengar istilah apa itu Disruption? Berikut penjelasan mengenai pengertian disruption, pengaruhnya terhadap bisnis, serta tips menghadapi disruption yang perlu kamu ketahui.

Secara umum pengertian disruption adalah salah satu kata yang paling sering digunakan dalam dunia bisnis beberapa tahun belakangan. Namun tahukah kamu arti dari disruption? Yuk simak artikel dibawah ini.

Memahami Pengertian Disruption

Dilansir dari laman resmi Investopedia, pengertian disruption atau disruptive innovation adalah berbagai hal yang mengacu pada teknologi dan mampu memberikan pengaruh yang sangat besar pada industri ataupun pasar.

Sedangkan dikutip dari laman Clayton Christensen, disruption digambarkan sebagai suatu proses yang mana pada suatu produk atau jasa berawal dari suatu aplikasi sederhana yang mampu merambat ke pasar kecil lalu meningkat ke pasar besar, hingga akhirnya mampu menggeser pasar konvensional.

Salah satu contoh sederhana dari disruption kehadiran internet di tengah-tengah kehidupan masyarakat saat ini. Sudah tidak bisa dipungkiri lagi bahwa internet mampu mengubah kehidupan setiap manusia secara drastis, termasuk dalam hal bisnis.

Memahami Pengertian Disruption

Kehadiran internet mampu membuat setiap perusahaan untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang saat ini sedang berkembang.

Sehingga, mereka akan dihadapkan dengan dua pilihan, ikut dalam perubahan atau tidak beradaptasi pada perubahan dan harus mengalami kerugian yang lebih besar.

Oleh karena itu, jangan heran bila saat ini sudah banyak perusahaan yang mengubah sistem bisnisnya perlahan-lahan menjadi perusahaan yang online di internet. Hal tersebut tentunya disebabkan adanya disruption atau gangguan yang membuat mereka untuk bisa terus beradaptasi.

Menurut dari laman World Economic Forum, salah satu dampak yang paling besar dari adanya kehadiran disruption adalah adanya perpindahan pelanggan ke industri ataupun pasar lainnya.

Jika inovasi tidak segera diimplementasikan, tidak menutup kemungkinan perusahaan lama dan perusahaan besar akan tergeser oleh startup yang merangkul dan beradaptasi dengan disruption.

Mitos Tentang Era Baru atau Disruptif

Ketika kita berbicara tentang disrupsi, umumnya kita mengidentifikasinya dengan transformasi digital. Semuanya harus terhubung secara teknologi sehingga mengembangkan mentalitas (yang tidak selalu benar) bahwa disrupsi memerlukan revolusi teknologi dan digital yang mendalam.

Namun, ada beberapa mitos yang banyak mengatakan mengenai disruption ini, antara lain:

1. Disruption Mendorong Perubahan Secara Radikal

Ada sebuah mitos yang mengatakan bahwa disruption mendorong perubahan secara radikal, tetapi kenyataannya disruption mendorong perubahan lebih ke arah digital di mana ini mengutamakan peningkatan pelayanan konsumen.

Beberapa pembuat kebijakan yang tegas merasa bahwa untuk berkembang di era disrupsi, proposisi nilai harus diubah. Kesulitan sebenarnya, bagaimanapun, adalah bagaimana korporasi akan menggunakan teknologi digital untuk lebih baik dan memenuhi kebutuhan pelanggannya.

2. Hal Digital Akan Menggantikan Fisik

Fakta selanjutnya mengenai disruption adalah di mana beragam hal digital akan menggantikan kinerja secara fisik. Disruption akan mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menggantikan tindakan fisik yang mampu memcukupi kebutuhan konsumen.

Namun, kehadiran disrupsi ini tidak sepenuhnya mampu menyebabkan perubahan signifikan pada perusahaan dengan mengganti sesuatu yang fisik dengan sesuatu yang digital, melainkan dengan membina kerjasama antara digital dan fisik. Hal ini dilakukan untuk lebih memenuhi permintaan pelanggan.

Sebagai contoh personal shopper yang mampu mengetahui detail kebutuhan kamu ketika berbelanja. Personal shopper biasanya memiliki pengetahuan dalam informasi kebutuhan konsumen sehingga lebih mampu memuaskan konsumen.

3. Disruption Berarti Mengakuisisi Startup

Mitos bahwa distruption bakal mengakuisisi startup, faktanya sebuah perusahaan yang merasa haeus melakukan akuisisi terhadap startup dapat bertahan pada era disrupsi dimana tidak seluruhnya bisa berhasil.

Akuisisi terhadap startup dapat berisiko menghancurkan kultur stratup. Bahayanya adalah personel sumber daya manusia yang berharga akan terpaksa meninggalkan bisnis. Terlepas dari kenyataan bahwa mereka dapat mempengaruhi satu sama lain dalam penciptaan berbagai penemuan.

4. Disruption Adalah Semua Hal Tentang Teknologi

Mitos bahwa distrupsi adalah semua hal mengenai teknologi, pada faktanya disruptif adalah semua hal terkait dengan konsumen. Maka dari itu, semua petinggi di perusahaan pastinya melaukan tidakan disruptif.

Di sisi lain, para pemimpin perusahaan menyadari bahwa transformasi teknologi digital adalah bentuk yang mengganggu dan melihatnya sebagai cara untuk meningkatkan kualitas layanan yang diberikan kepada pelanggan.

Misalnya, dalam operasional yang lebih efektif, mudah beradaptasi, dan membuat segalanya lebih sederhana bagi pelanggan, ini tidak mengesampingkan perbaikan di mana perusahaan harus berpikir di luar kotak dan memanfaatkan potensi yang ada.

Pengaruh disruptive innovation Dalam Bisnis

Pengaruh Disruption Dalam Bisnis

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa disruption adalah salah satu gangguan dalam melakukan bisnis yang didalamnya perusahaan harus bisa beradaptasi dengan baik.

Pandangan setiap orang tentang disrupsi akan berbeda-beda. Beberapa melihatnya sebagai peluang, sementara yang lain melihatnya sebagai bahaya.

Dilansir dari laman resmi Venture Xchange, saat ini sudah banyak perusahaan yang berusaha meningkatkan sistem bisnisnya dengan cara menambahkan sistem online.

Hal ini dilakukan untuk lebih menarik minat pelanggan yang juga ikut terpengaruh dengan kehadiran disruption. Kenapa? karena di zaman yang sudah serba digital seperti saat ini, sudah banyak pelanggan yang ingin membeli produk atau menggunakan suatu jasa melalui cara-cara yang sederhana.

Rhenald Kasali dalam jurnal Kompas mengatakan bahwa salah satu ciri dari keberhasilan produk disruption lebih mudah diakses oleh para calon pembeli.

Dari sisi transaksi, pelanggan juga akan lebih mudah untuk melakukan pembayaran dengan cara digital tanpa harus susah payah menggunakan uang tunai.

Berbagai hal diatas merupakan beberapa efek dari disruption dalam suatu bisnis. Sehingga, segalanya akan lebih mudah untuk dilakukan seiring dengan semakin berkembangnya teknologi.

Tips Menghadapi Disruption

Setelah kita semua mengetahui pengertian dan pengaruh disruption pada bisnis, lantas timbul pertanyaan, bagaimana cara terbaik untuk menyikapi disruption?

Suka tidak suka, disruptive innovation atau disruption adalah suatu gangguan yang akan selalu muncul seiring terus berkembangnya ilmu teknologi.

Tips Menghadapi Disruption

Saat kita membicarakan disruption maka bukan hanya persoalan bisnis yang hanya akan kita bicarakan hari ini saja, melainkan yang akan terjadi pada masa depan juga. Untuk menghadapi hal tersebut, berikut ini kami berikan tips terbaik untuk menghadapi disruption:

1. Dengarkan Konsumen dan Amati Tren Industri

Tips pertama dan yang paling pertama untuk bisa menghadapi disruption adalah dengan mengamati tren yang saat ini sedang terjadi. Kenapa? Karena tren teknologi akan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Contoh sederhananya adalah tren belanja online yang saat ini sedang terjadi. Kamu bisa mengubah sistem penjualan produk atau jasa kamu menjadi secara online agar mampu menarik lebih banyak konsumen.

Selain dengan mengamati tren yang saat ini sedang terjadi, kamu mungkin membuat sistem penjualan produk atau layanan kamu secara online untuk menarik lebih banyak pelanggan.

Kamu bisa menghubunginya dengan melalui telepon, video call, atau bertemu langsung dengan mereka. Ini merupakan cara yang tepat untuk bisa mengatasi perubahan yang saat ini tengah terjadi, khususnya dalam dunia bisnis karena adanya disruption.

2. Fokus Pada Inovasi Model Bisnis

Walaupun teknologi sudah berkembang menjadi suatu hal yang wajib dimaksimalkan dalam menghadapi disruption, tapi tidak ada salahnya untuk tetap fokus terlebih dahulu pada model bisnis kamu.

Inovasi dalam model bisnis akan dapat meningkatkan nilai perusahaan kamu, meningkatkan daya tarik layanan atau barang kamu kepada klien. Untuk mempermudah dalam menentukan tujuan bisnis perusahaan, kamu dapat membuat model bisnis di atas kanvas.

Hindari terlalu banyak berkonsentrasi pada perubahan teknologi dan sebagai gantinya berusahalah untuk terus berinovasi dan menetapkan strategi bisnis.

3. Jangan “Berlindung” di Bawah Regulasi

Adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat akan membuat konsumen memiliki lebih banyak pilihan produk barang dan jasa.

Untuk itu, apabila perusahaan kamu adalah salah satu korban disruption, kamu tidak boleh terus menerus berlindung di bawah payung peraturan pemerintah dengan terus mencari-cari kesalahan kompetitor kamu.

Ada ataupun tidak adanya regulasi pemerintah, kompetitor akan terus berkembang dengan sendirinya, dan jika kamu tidak ikut berkembang, maka perusahaan kamu akan semakin terdegradasi.

4. Jangan Pernah Merasa Merasa Puas

Perlu kamu ketahui bahwa setiap produk mempunyai siklusnya tersendiri. Diambil dari teori The 4 Product Life Cycle Stages (PLC), sebuah produk akan memiliki 4 tahapan masa siklus.

Keempat tahapan tersebut adalah perkenalan, perkembangan, kematangan, dan penurunan. Untuk itu, apabila produk ataupun jasa kamu sedang berada dalam tahap perkembangan, maka jangan terlalu cepat merasa puas.

Karena saingan lain akan lebih siap untuk merebut pasar baru pada saat itu dengan berbagai item baru yang dapat mereka kembangkan.

Disruption dan Disruptive Technology

Pengertian Disruption dan Disruptive Technology

Selain disruption atau disruptive innovation, hal lainnya yang menjadi tantangan dalam berbisnis adalah disruptive technology. Mungkin, sebagian besar dari kamu, khususnya yang pernah terjun ke dalam dunia startup, sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu ini.

Dilansir dari Investopedia, disruptive technology adalah inovasi dari teknologi yang secara umum mengubah perilaku konsumen, industri, dan cara bisnis beroperasi.

Secara umum, inovasi yang mengganggu ini muncul dari pengusaha yang mencoba mengubah model bisnis tradisional menjadi model baru. Startup yang memulai dari bawah dan memprioritaskan teknologi mungkin secara bertahap mengubah cara perusahaan tradisional berfungsi.

Sebab, pada dasarnya perusahaan konvensional yang sudah besar hanya berfokus untuk meningkatkan penjualan ketimbang melakukan perubahan, khususnya dari segi teknologi.

Contoh Disruptive Technology

Saat ini, sudah banyak sekali contoh disruptive technology yang bisa kita lihat. Contoh sederhananya adalah transportasi online, situs berita online, e-commerce, dll. Perhatikanlah bagaimana terganggunya para tukang ojek karena adanya transportasi ojek online.

Nah, itu adalah salah satu ciri dari produk disruption yang mampu memudahkan pelanggan dalam segi aksesnya. Ketika ingin menggunakan jasa transportasi online, kamu cukup membuka smartphone dari rumah, dan pengemudi akan menjemput kamu sesuai posisi kamu saat ini.

Contoh sederhana lainnya adalah situs berita online yang mampu menggeser koran dan majalah konvensional. Saat ini, Kebanyakan orang saat ini lebih suka membaca berita di smartphone mereka daripada membeli koran atau majalah.

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan dari Teknatekno mengenai pengertian disruption, pengaruhnya terhadap bisnis, serta tips menghadapi disruption yang perlu kamu ketahui.

Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa, pengertian disruption atau disruptive innovation adalah berbagai hal yang mengacu pada teknologi dan mampu memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap industri atau pasar.

Salah satu dampak terbesar dari adanya disrupsi adalah perpindahan pelanggan ke industri atau pasar lain, menurut World Economic Forum.

Cek Berita dan Artikel Teknatekno.com Lainnya di Google News

Back to top button