Pengertian Biaya Rata-Rata dan Contohnya

Teknatekno.com – Hai Teknozen! Kali ini Teknatekno akan membahas tentang biaya rata-rata (average cost), mulai dari pengertian, cara menghitungnya, sampai dengan contoh biaya rata-rata.

Sebuah bisnis tidak lepas dari permasalahan biaya dan produksi. Salah satu biaya yang harus dihitung secara benar adalah biaya rata-rata (average cost).

Secara umum, biaya rata-rata adalah biaya per unit barang yang diperoleh dari total biaya produksi kemudian dibagi dengan jumlah barang yang diproduksi dalam proses produksi. Biaya rata-rata ini diperlukan untuk menentukan persentase keuntungan yang ingin didapatkan.

Untuk memahami lebih dalam tentang pengertian biaya rata-rata (average cost) serta cara menghitung biaya rata-rata, yuk simak artikel dari Teknatekno dibawah ini.

Memahami Pengertian Biaya Rata-Rata (Average Cost)

Memahami Pengertian Biaya Rata-Rata (Average Cost)

Pengertian biaya rata-rata atau average cost adalah seluruh biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi dibagi dengan perolehan output.

Biaya ini juga dikenal sebagai biaya unit atau Average Total Cost (ATC). Jenis biaya yang satu ini mengukur jumlah biaya yang harus dikeluarkan untuk memproduksi setiap unit produk atau output.

Mengapa biaya rata-rata penting? Penetapan harga produk untuk perusahaan sangat bergantung pada perhitungan biaya rata-rata, yang sering dikenal sebagai ATC. Ketika harga produk ditetapkan di bawah ATC, perusahaan akan mengalami kerugian.

Mengetahui ATC juga membuatmu memahami pola atau estimasi biaya jangka panjang seperti adanya fluktuasi biaya saat ada permintaan musiman atau upaya-upaya efisiensi proses produksi.

Rumus Biaya Rata-Rata

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, average cost adalah biaya per unit produksi yang dihitung dengan membagi total biaya produksi dengan total unit yang diproduksi.

Berdasarkan pengertian tersebut, kita bisa mengetahui rumus biaya rata-rata, yaitu:

Biaya Rata-Rata (AC) = Total biaya produksi (TC) / Jumlah unit yang diproduksi (Q)

  • AC = Average Cost
  • TC = Total Cost
  • Q = Quantity atau jumlah total unit yang diproduksi.

Cara Menghitung Biaya Rata-Rata

Cara Menghitung Biaya Rata-Rata

Setelah mengetahui pengertian biaya rata-rata dan rumus biaya rata-rata, berikut ini adalah langkah-langkah yang bisa kamu terapkan saat menghitung biaya rata-rata:

1. Menentukan Biaya Produksi Tetap

Setiap bisnis idealnya membuat laporan keuangan tahunan. Dalam laporan keuangan tahunan, kamu akan menemukan laporan laba rugi.

Pada laporan laba rugi, kamu dapat memeriksa komponen biaya tetap atau fixed cost. Biaya produksi tetap termasuk, misalnya, premi asuransi, biaya setup, depresiasi, biaya penjualan, dan biaya sewa.

2. Mencari Biaya Variabel Produksi

Seperti biaya tetap, biaya variabel atau variable cost pun dapat ditemukan di dalam laporan rugi laba. Biaya variabel adalah jenis biaya yang jumlahnya tergantung pada hasil produksi.

Adapun beberapa contoh biaya variabel ialah biaya untuk bahan baku, upah tenaga kerja, kemasan produk, serta biaya-biaya lain yang berhubungan langsung dengan produksi. Untuk menghitung biaya rata-rata, kamu perlu tahu biaya tetap dan biaya variabel terlebih dahulu.

3. Menjumlahkan Total Biaya Tetap dan Biaya Variabel

Apabila kamu sudah mengetahui nominal biaya tetap dan biaya variabel, kamu bisa menjumlahkan keduanya untuk mendapatkan biaya total produksi.

Biaya total produksi = Biaya tetap + Biaya variabel

4. Memeriksa Kuantitas Unit yang Diproduksi

Karena pembagi dalam perhitungan biaya rata-rata adalah jumlah total unit yang diproduksi, kamu perlu mengonfirmasi jumlahnya.

Kamu dapat mengetahui jumlah unit yang dihasilkan dengan memeriksa faktur atau berbicara dengan departemen akuntansi. Jika proses manufaktur dilakukan dengan cara yang terinformasi, kamu dapat menghubungi pabrik yang membuat item tersebut.

5. Menghitung Biaya Rata-Rata

Setelah melakukan prosedur di atas, kamu sekarang dapat menghitung biaya rata-rata. Dengan menggunakan total biaya produksi langkah ketiga dan jumlah total unit manufaktur langkah keempat, kita dapat menghitung dengan biaya rata-rata.

Supaya kamu memiliki perspektif yang lebih baik, mari kita lihat contoh penghitungan biaya rata-rata berikut ini.

Contoh Perhitungan Biaya Rata-Rata

Kini kita masuk ke dalam pembahasan contoh biaya rata-rata. Sebut saja, kamu memiliki bisnis tote bag secara online. Setelah memeriksa laporan rugi laba, kamu mengetahui bahwa total biaya tetap dan biaya variabel untuk memproduksi tote bag tersebut ialah Rp 5.000.000.

Nominal biaya total produksi tersebut dapat menghasilkan 357 buah tote bag. Jadi, berapa biaya rata-rata atau average cost dari produksi tote bag tersebut?

  • Biaya rata-rata = Total biaya produksi / Jumlah unit yang diproduksi
  • Biaya rata-rata = Rp 5.000.000 / 357 unit
  • Biaya rata-rata = Rp 14.005 / unit

Nah, nilai Rp 14.005 tersebut bisa kamu jadikan rujukan saat menetapkan harga jual. Kamu tentu ingin bisnismu memperoleh keuntungan. Maka dari itu, kamu harus menjual produk tote bag-mu di atas biaya rata-rata.

Meskipun begitu, biaya rata-rata tentu bukanlah satu-satunya faktor acuan dalam penentuan harga jual. Terdapat berbagai komponen lain yang perlu kamu pertimbangkan dan perhitungkan seperti persediaan serta pembelian.

Kelebihan dan Kekurangan Metode Average Cost

Kelebihan dan Kekurangan Metode Average Cost

Kelebihan metode biaya rata rata atau average cost adalah sederhana. Terlebih, bagi perusahaan yang memproduksi barang-barang dengan karakteristik sangat mirip dan dalam jumlah besar.

Perusahaan mungkin hanya mengambil rata-rata dari pada harus melacak setiap produk dan biaya unitnya. Untuk mengetahui berapa banyak bahan baku yang dibutuhkan, diperlukan salah satu pendekatan tersebut.

Bahan baku perlu dikelola dengan metode biaya rata rata sebab jenis biaya yang satu ini tergolong fluktuatif. Biaya yang dikeluarkan perusahaan akan berubah-ubah mengikuti harga pasar dari waktu ke waktu.

Dalam hal perencanaan dan penganggaran keuangan jangka panjang, pengeluaran rata-rata mungkin merupakan alat yang berguna. Namun, ingatlah bahwa strategi biaya rata-rata tidak bekerja untuk semua perusahaan.

Misalnya, ketika unit barang sangat bervariasi, akan sulit bagi perusahaan untuk menghitung rata-rata secara merata. Furnitur antik atau beberapa jenis perhiasan, misalnya, adalah contoh barang yang sangat langka, mahal, atau khas.

Apabila kamu tetap menghitungnya dengan metode average cost, sudah pasti hasilnya akan berbeda-beda. Selain itu, penetapan biaya rata rata tidak relevan saat biaya produksi cenderung naik atau turun.

Risikonya laporan keuangan atau catatan keuangan menjadi kurang akurat karena biaya selama periode tersebut sangat fluktuatif.

Kesimpulan

Demikianlah penjelasan dari Teknatekno seputar mengenai biaya rata-rata, mulai dari pengertian, rumus, cara menghitung, sampai dengan contoh perhitungan biaya rata-rata.

Biaya rata-rata adalah biaya per unit barang yang diperoleh dari total biaya produksi kemudian dibagi dengan jumlah barang yang diproduksi dalam proses produksi. Biaya rata-rata ini diperlukan untuk menentukan persentase keuntungan yang ingin didapatkan.

Nantinya, biaya rata-rata ini akan dibandingkan dengan biaya tetap sebagai bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan. Setelah mengetahui berapa rasio antara biaya dan rata-rata, maka perusahaan akan dapat menentukan laba yang ideal.

Cek Berita dan Artikel Teknatekno.com Lainnya di Google News

Back to top button