Pengertian ETF, Jenis, Keuntungan dan Contohnya

Teknatekno.com – Belakangan ini para investor beralih ke jenis investasi yang baru, yaitu Exchange Traded Fund atau ETF. Memahami pengertian ETF sangatlah diperlukan bagi para investor yang ingin memanfaatkan jenis investasi ini.

Dengan begitu, para investor pemula bisa lebih bijak saat menginvestasikan kekayaannya serta mampu membedakan antara reksadana dengan exchange traded fund ini. Dengan dasar inilah, Teknatekno akan membahas seputar apa itu ETF, mulai dari pengertian ETF itu sendiri sampai dengan contohnya.

Apa itu ETF (Exchange Traded Fund)

Pengertian Apa itu ETF (Exchange Traded Fund)

Exchange Traded Fund atau ETF adalah produk keuangan yang awalnya ditawarkan di Kanada di bursa saham Toronto pada tahun 1990 dan telah berkembang di seluruh dunia, akhirnya masuk ke Indonesia pada tanggal 18 Desember 2007 dengan menggunakan reksa dana indeks LQ45 sebagai underlying.

Adapun pengertian ETF adalah reksa dana yang dipertukarkan di bursa, seperti pasar saham Indonesia. Dengan kata lain, ETF adalah kontrak investasi kolektif yang bisa diperdagangkan di bursa efek.

Kontrak investasi kolektif yang dipegang oleh investor bisa dipertukarkan seperti saham di bawah sistem ini selama jam bursa.

ETF juga dikenal sebagai kendaraan yang menggabungkan karakteristik saham dan reksa dana, karena merupakan kontrak investasi kolektif dengan prosedur jual beli yang mirip dengan saham.

Banyak konsumen tertarik untuk berinvestasi melalui ETF karena dianggap lebih likuid daripada reksa dana tradisional yang tidak diperdagangkan di pasar. Per Desember 2021, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencatat, ada 49 ETF, yang bisa digunakan untuk diversifikasi portofolio investasi kamu.

ETF saham adalah solusi bagi investor yang ingin berinvestasi dalam sejumlah besar ekuitas sekaligus dengan membeli satu produk. Alhasil, ETF Indonesia kini sangat diminati oleh masyarakat umum.

Namun, karena banyak orang tidak memahami perbedaan antara ETF dan reksa dana, banyak orang percaya bahwa kedua jenis sekuritas ini bisa dipertukarkan.

Perbedaan ETF dengan Reksa Dana

Dari segi konsep investasi kolektif, ETF dan reksa dana memang terlihat serupa. Namun, jika dilihat dari sisi perdagangan, transaksi jual beli reksa dana dilakukan melalui manajer investasi, sedangkan transaksi ETF dilakukan melalui dealer partisipan di pasar primer dan pasar sekunder.

Selain itu, dari segi proses penjualan reksa dana termasuk lebih lama sebab dilakukan melalui manajer investasi. Sementara proses penjualan ETF bisa dilakukan selama jam bursa aktif, sehingga pemiliknya bisa melakukan dengan mudah dan nyaman.

Oleh karena itu, ETF memiliki nilai yang lebih fluktuaktif daripada reksa dana yang mana perubahan nilainya akan diperbarui setiap akhir hari.

Jenis-Jenis Exchange Traded Fund

Jenis-Jenis Exchange Traded Fund

Setelah memahami pengertian ETF dan perbedaannya dengan reksa dana, selanjutnya kita akan membahas jenis-jenis ETF. Ada beberapa jenis ETF yang bisa digunakan oleh para investor untuk menghasilkan pendapatan, meningkatkan harga, spekulasi serta melindungi nilai atau menyeimbangkan resiko dalam portofolio investor.

Nah, berikut ini adalah beberapa jenis ETF yang ada di pasar saat ini:

1. ETF Obligasi

ETF obligasi digunakan untuk memberikan pendapatan yang konsisten kepada investor. Distribusi pendapatan mereka ditentukan oleh kinerja obligasi yang mendasarinya. Obligasi pemerintah, perusahaan, dan negara bagian dan lokal mungkin menarik bagi investor (disebut obligasi daerah).

ETF obligasi, tidak seperti produk yang mendasarinya, tidak memiliki tanggal jatuh tempo. ETF sering diperdagangkan dengan harga premium atau diskon pada nilai nominal obligasi.

2. ETF Saham

ETF saham (ekuitas) adalah kumpulan ekuitas yang mengikuti industri atau sektor tertentu. ETF saham, misalnya, bisa mengikuti ekuitas otomotif atau internasional.

Tujuannya adalah untuk memberikan eksposur yang beragam ke sektor tertentu, termasuk bisnis berkinerja tinggi dan pendatang baru yang berpotensi untuk dikembangkan.

ETF saham, tidak seperti reksa dana saham, memiliki biaya yang lebih murah dan tidak memerlukan kepemilikan saham yang sebenarnya.

3. ETF Sektor atau Industri

ETF industri atau sektor adalah dana yang berfokus pada satu industri atau area. ETF sektor energi, misalnya, akan berisi perusahaan di industri itu.

Konsep di balik ETF industri adalah untuk mendapatkan eksposur ke sisi positif industri dengan memantau kinerja perusahaan di area tersebut. Salah satu contohnya adalah industri teknologi, yang mengalami peningkatan pendanaan dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi yang sama, karena ETF tidak memerlukan kepemilikan saham secara langsung, sisi negatif dari kinerja saham yang tidak menentu juga terbatas. Selama siklus ekonomi, ETF industri sering digunakan untuk siklus masuk dan keluar sektor.

4. ETF Komoditas

ETF komoditas berinvestasi pada komoditas seperti minyak mentah atau emas. ETF komoditas memberikan berbagai keuntungan. Untuk memulainya, mereka mendiversifikasi portofolio, membuatnya lebih mudah untuk melakukan lindung nilai terhadap penurunan.

ETF komoditas, misalnya, bisa menjadi penyangga selama penurunan pasar saham. Kedua, berinvestasi di ETF komoditas lebih murah daripada memiliki komoditas secara langsung. Hal ini disebabkan tidak adanya biaya asuransi dan penyimpanan.

5. ETF Mata Uang

ETF mata uang adalah jenis reksa dana yang mengikuti kinerja pasangan mata uang yang mencakup mata uang lokal dan asing. ETF mata uang memenuhi sejumlah fungsi.

ETF jenis ini bisa digunakan untuk berspekulasi pada nilai mata uang tergantung pada tren politik dan ekonomi suatu negara. ETF mata uang juga digunakan oleh importir dan eksportir untuk mendiversifikasi portofolio atau sebagai lindung nilai terhadap volatilitas di pasar mata uang.

6. ETF Terbalik (Inverse)

Shorting saham memungkinkan ETF terbalik untuk mendapatkan keuntungan dari penurunannya. Shorting saham berarti menjualnya dengan harapan membeli kembali dengan harga yang lebih rendah.

Membalikkan saham pendek ETF menggunakan derivatif. Pada dasarnya, mereka bertaruh bahwa pasar akan jatuh. Ketika pasar saham jatuh, ETF terbalik naik secara proporsional.

Banyak ETF terbalik adalah Exchange-Traded Notes (ETN) daripada ETF nyata, yang harus diperhatikan investor. ETN adalah obligasi yang diperdagangkan seperti saham dan didukung oleh penerbit seperti bank. Periksa dengan broker kamu untuk melihat apakah ETN sesuai untuk portofolio kamu.

Kelebihan dan Kekurangan ETF

Kelebihan dan Kekurangan ETF

Tidak berbeda dengan jenis investasi lainnya, ETF juga mempunyai keuntungan maupun kerugian. Berikut penjelasannya:

Keunggulan ETF

Berikut ini beberapa keuntungan dari ETF:

1. Diversifikasi Investasi Menjadi Sederhana

Karena investor bisa membeli ekuitas terbaik dan paling likuid dengan sedikit uang, produk ini merupakan pilihan investasi yang efisien. Misalnya, membeli XPTD ETF berarti membeli semua saham di indeks referensi, IDX30.

Bobot 30 saham produk tersebut sama dengan bobot indeks IDX30. Misalnya, bobot saham BCA di indeks saham IDX30 adalah 30%, maka bobot saham BCA di ETF XPTD sama dengan referensi.

2. Likuid dan Fleksibel

Faktor lain yang membuat ETF menarik adalah fleksibilitasnya, karena bisa diperdagangkan selama jam pertukaran seperti halnya ekuitas. Ini menyederhanakan manajemen investasi bagi investor.

3. Rendah Biaya dan Risiko

Biaya pengelolaan dalam transaksi jual beli instrumen ini lebih rendah dibandingkan reksa dana.

4. Akses ke ETF dengan Target Industri Tertentu

Ada berbagai jenis ETF yang hanya memiliki ekuitas dari satu industri. Ini berarti kamu bisa berinvestasi di banyak perusahaan dalam industri yang sama pada waktu yang sama. Pilih produk exchange traded fund yang mencakup ekuitas perbankan, misalnya jika kamu ingin berinvestasi di bisnis perbankan.

5. Transparansi Sistem

ETF adalah sarana investasi yang transparan karena kamu bisa memperoleh informasi terkait produk kapan saja dan dari lokasi mana pun. Manfaat ini penting karena akan membuat keputusan investasi masa depan kamu lebih mudah.

Kerugian ETF

Adapun kekurangan yang dimiliki ETF yaitu sebagai berikut:

1. Harga Berubah-Ubah

Salah satu kelemahan ETF adalah harganya bervariasi karena termasuk ekuitas. Saham, seperti yang kita semua tahu, adalah salah satu alat keuangan dengan risiko volatilitas pasar yang relatif signifikan tetapi keuntungan jangka panjang yang besar.

2. Diversifikasi Rendah dalam ETF Khusus Industri

Seperti dikatakan sebelumnya, ada banyak jenis dana yang diperdagangkan di bursa yang terdiri dari saham perusahaan di sektor terkait.

Jadi, jika suasana hati atau kebijakan tertentu berubah dan pengaruhnya terhadap nilai perusahaan menurun, portofolio kamu akan terbakar. Untuk mengurangi risiko investasi, kamu bisa berinvestasi di ETF yang memiliki ekuitas dari berbagai sektor.

3. Adanya Pajak Capital Gain

Salah satu kemungkinan keuntungan dari perdagangan ETF di pasar saham, mirip dengan saham, adalah perbedaan antara harga beli dan harga jual (capital gain). Saat menjual saham di pasar modal, investor harus membayar pajak sebesar 0,1 persen dari harga transaksi.

4. Adanya Spread (Perbedaan Harga Jual dan Beli)

Selisih antara harga beli dengan harga jual unit terjadi dalam ETF. Tidak seperti reksa dana, yang mana harga jual atau beli ditentukan oleh nilai aset bersih (NAB) terbaru.

Alasan Berinvestasi ETF

Mengapa Berinvestasi di ETF?

Dari pengertian ETF diatas, bisa kita lihat bahwa ETF menarik dalam berbagai cara. Hal ini menjadikannya pilihan investasi yang sukses. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa harus berinvestasi di ETF:

1. Efektivitas Pajak

Karena dana yang diperdagangkan di bursa menggunakan skema berorientasi ekuitas, mereka dikenakan pajak dengan cara yang sama seperti skema investasi terkait ekuitas lainnya.

2. Jaminan Likuiditas

ETF dijamin likuid dan memberikan diversifikasi luas untuk portofolio reksa dana. Karena ETF adalah dana terbuka, investor memiliki kemampuan untuk menghapus kepemilikan sesuai kebutuhan.

3. Manajemen Investasi Pasif

Artinya investor tidak diharuskan untuk meneliti setiap bentuk investasi yang tergabung dalam ETF. Portofolio ETF mirip dengan indeks benchmark dengan kesalahan pelacakan rendah.

4. Hemat Biaya

Rasio biaya ETF rendah karena dana yang diperdagangkan di bursa tidak dikelola secara aktif seperti reksa dana tradisional. Ketika disimpan untuk jangka panjang, investasi dalam ETF yang ditawarkan pada platform berbiaya rendah tidak diragukan lagi bisa meningkatkan pendapatan.

5. Menawarkan fleksibilitas

ETF, seperti saham, bisa diperdagangkan setiap hari. ETF bisa dijual dengan untung dan diselesaikan dalam satu hari dari jam buka pasar.

6. Transaksi Tunggal

Ketika reksa dana dibeli, investor pada dasarnya membeli sekeranjang saham yang mencakup sejumlah kecil saham di semua aset. Investor, di sisi lain, bisa membeli ETF dalam satu transaksi, sehingga menciptakan portofolio mini. Ini akan membantu investor dalam menentukan kinerja.

Misalnya, jika investor ingin berinvestasi di ETF emas, mereka harus terlebih dahulu memahami kinerja emas, yang merupakan komoditas yang diperdagangkan setiap hari. Ini menyederhanakan hal-hal bagi investor.

7. Diversifikasi Portofolio

Jika diinginkan, investor bisa membeli ETF Emas, yang biasanya menggunakan harga emas fisik sebagai referensi. Fitur ini memungkinkan investor untuk membeli komoditas seperti emas melalui ETF emas.

Menyertakan dana yang diperdagangkan di bursa dalam portofolio reksa dana kamu bisa membantu kamu mendiversifikasi investasi kamu.

8. Tidak Ada Periode Penguncian.

ETF tidak memiliki masa jatuh tempo karena bisa diperdagangkan setiap hari. ETF tidak hanya menjamin likuiditas, tetapi juga memberi investor kemampuan untuk menjual kepemilikan sesuai kebutuhan. ETF adalah pilihan investasi yang menarik karena tidak memerlukan holding period.

Cara Membeli ETF

Cara Membeli ETF

Selain memahami pengertian ETF, sebagian dari kamu mungkin masih ada yang belum mengetahui bagaimana cara membeli ETF. Berikut ini akan Teknatekno jelaskan cara bertransaksi ETF yang mudah. Dalam membedakan transaksi di pasar primer maupun sekunder sebenarnya hanya dari minimum jumlah pembelian unitnya saja.

Yang mana, di pasar primer kamu perlu membeli satu unti kreasi atau creation unit yang jumlahnya setara dengan 100 ribu unit. Sementara di pasar sekunder kamu hanya perlu membeli membeli 1 lot yang mana jumlahnya setara dengan 100 unit.

Jual beli di pasar sekunder umumnya ditujukan untuk transaksi yang nilainya lebih kecil dan dilakukan melalui Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebagai catatan, setiap investor harus membuka rekening untuk investasi terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian ETF. Jika sudah membuatnya, maka kamu bisa memilih ingin melakukan transaksi di pasar primer atau di pasar sekunder.

Untuk transaksi di pasar primer akan dilakukan oleh dealer partisipan, sedangkan di pasar sekunder akan dilakukan melalui broker. Adapun peran dealer partisipan disini adalah mempertemukan antara harga jual dan beli ETF. Karena tanpa mereka, aktivitas permintaan dan penawaran berakhir menjadi tidak adanya transaksi.

Cara Berinvestasi di ETF

ETF tersedia di Indonesia, namun ada beberapa kekurangannya. Meskipun BEI menyediakan 45 ETF, likuiditasnya minim karena ketidaktahuannya. Aset ini sulit untuk dibeli atau dijual di BEI.

Investor kehilangan uang saat spread ETF berkembang karena mereka harus membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah. Kenyataannya, karena likuiditasnya, sangat memungkinkan bagi investor yang ingin menjual tetapi tidak bisa karena pasar tidak likuid.

Alternatif lain bagi investor Indonesia adalah berinvestasi di ETF di pasar global, khususnya di Amerika Serikat yang memiliki bursa saham terbesar di dunia. Ada berbagai alasan mengapa pasar saham Amerika menarik untuk berinvestasi di ETF.

Banyak perusahaan di seluruh dunia, seperti Facebook, Google, Amazon, Coca-Cola, dan Apple, memiliki kantor pusat di Wall Street. Ini adalah beberapa saham yang tersedia di pasar saham Amerika.

Karena pasarnya besar dan industrinya berkembang, investor bisa membeli berbagai jenis ETF dari pasar saham Amerika. Tidak hanya saham, tetapi juga ETF komoditas dan sarana investasi lainnya.

Contoh ETF di Indonesia

Berikut adalah beberapa ETF yang bisa kamu beli di Indonesia:

  1. KIK Premier LQ45 (R-LQ45)
  2. Indeks Premier ETF Index IDX30 (XIID)
  3. Indeks STAR ETF SRI-KEHATI (XSRI)
  4. Indeks KISI IDX Value30 ETF (XKIV)
  5. Ashmore ETF LQ45 ALPHA (XAQA)
  6. Indeks Bahana ETF Bisnis-27 (XBIN)
  7. Phillip MSCI Indonesia Equity Index (XPMI)
  8. Pinnacle FTSE Indonesia (XPFT)
  9. Pinnacle Enhanced Sharia ETF (XPES)
  10. Premier ETF Indonesia Sovereign Bonds (XISB)
  11. KIK Syariah Premier ETF JII (XIJI)

Semua ETF di atas telah resmi terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

FAQ Seputar Exchange Traded Fund (ETF)

FAQ

Berikut pertanyaan seputar pengertian ETF.

Apa Saja Produk ETF di Indonesia?

Contoh produk ETF di Indonesia diantaranya adalah ETF LQ45 dan IDX30. Dengan memilikinya, investor telah memiliki semua saham yang masuk di indeks itu dan bisa diperjualbelikan sebagaimana saham.

Berapa Jumlah ETF di Indonesia?

Pengawasan ETF dilakukan oleh tiga pihak, yakni OJK, BEI dan KSEI. Adapun jumlah ETF di Indonesia per 15 Desember 2021, terdapat 49 ETF yang tercatat di Bursa Efek Indonesia atau BEI.

Bagaimana Cara Perdagangan ETF?

Transaksi perdagangan ETF pada dasarnya bisa dilakukan dalam dua metode, yaitu transaksi via pasar saham primer maupun sekunder. Tentunya terdapat perbedaan di antaranya. Melalui pasar primer, para investor membeli serta menjual unit penyertaan reksadana Exchange Traded Fund dalam bentuk unit kreasi kepada MI.

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas bisa kita simpulkan bahwa pengertian ETF atau Exchange Traded Fund adalah jenis dana yang mempunyai beberapa aset dasar yang cenderung lebih likuid dan lebih hemat biaya jika dibandingkan dengan reksa dana.

Demikianlah penjelasan dari Teknatekno seputar apa itu Exchange Traded Fund, mulai dari pengertian ETF, jenis-jenisnya sampai dengan keuntungan dan kekurangannya. Semoga artikel ini bisa bermanfaat ya!

Cek Berita dan Artikel Teknatekno.com Lainnya di Google News

Back to top button