Apa itu Bitcoin Fork dalam Dunia Crypto?

Teknatekno.com – Hai Teknozen! Kamu tau apa itu Bitcoin Fork? Perlu kita sadari, semakin kita mengenal serta mendalami teknologi blockchain dan aset kripto, kita akan sering mendengar istilah-istilah asing. Bahkan sebagian diantaranya ada yang terdengar unik di telinga kita, seperti Bitcoin Fork.

Fork yang satu ini, bukan garpu yang biasa kita gunakan untuk makan ataupun garpu taman yang biasa digunakan untuk membersihkan daun-daun kering.

Jadi, sebenarnya apa Fork itu dan apa hubungannya dengan Bitcoin? Yuk simak penjelasan dibawah ini seputar apa itu Bitcoin Fork dan fakta-fakta menarik lain yang perlu kamu ketahui.

Mengenal Apa itu Bitcoin Fork

Bitcoin Fork adalah percabangan yang terjadi dalam blockchain Bitcoin dan membentuk aset kripto baru. Bitcoin Fork terjadi ketika kamu membuat salinan dari codingan blockchain, dan memperbarui jaringan Bitcoin tersebut dengan cara memodifikasinya.

Fork memungkinkan pengembang membuat eksperimen dan pengembangan yang berbeda dalam sebuah platform. Dalam Bitcoin versi satu, blok yang tersedia hanya memiliki kapasitas 1 MB saja. Tetapi, setelah forking dilakukan, pengembang berhasil membuat jaringan baru yang memiliki blok dengan kapasitas lebih besar.

Ketika Bitcoin Fork terjadi, tidak jarang aktivitas ini memunculkan aset kripto baru. Aset kripto yang terjadi akibat forking merupakan hasil alami dari struktur sistem blockchain yang terdesentralisasi.

Ketika forking terjadi, tidak semua nodes akan mengikuti pembaruan yang terjadi. Hal ini yang membuat Bitcoin akhirnya mengalami percabangan dan menghasilkan aset ‘turunan’. Dapat disimpulkan, Bitcoin Fork pada dasarnya muncul dari perspektif yang berbeda tentang visi, misi, dan riwayat transaksi.

Forking juga bisa terjadi karena adanya kekurangan dalam sistem. Seperti yang terjadi dalam kasus Bitcoin Cash. Ketika Bitcoin menjadi semakin populer, teknologi blockchain yang dibangunnya melambat.

Hal ini mengakibatkan seluruh sistem menjadi tidak dapat diandalkan dan biaya transaksi menjadi lebih mahal. Alhasil, pengembang membuat cabang baru yang kini dikenal sebagai Bitcoin Cash.

Mengenal Apa itu Bitcoin Fork

Tipe Bitcoin Fork

Setelah memahami apa itu Bitcoin Fork, ternyata Bitcoin Fork ini memiliki dua tipe, yang mana masing-masing tipe memiliki fungsi dan cara kerjanya tersendiri.

Hard Fork

Hard fork biasanya akan membuat pembaruan yang sangat berbeda dan sepenuhnya terpisah dari versi asli Bitcoin. Biasanya, pembaruan akibat hard fork akan memunculkan aset kripto baru.

Namun, kendati berasal dari blockchain milik Bitcoin, tidak ada transaksi atau komunikasi yang terjadi antara blockchain asal dengan aset kripto yang tercipta setelahnya.

Salah satu contohnya adalah Bitcoin Cash. Karena kebanyakan jaringan blockchain seperti Bitcoin yang bersifat open source, maka siapapun dapat melihat menyalin coding-nya.

Soft Fork

Bitcoin Fork jenis ini bersifat lebih sederhana dari hard fork. Soft Fork hanya akan memberikan perubahan kecil saja pada jaringan blockchain. Soft Fork juga dikenal sebagai “backward compatible”.

Hal ini dikarenakan walaupun transaksi yang lama menjadi tidak valid, tetapi transaksi baru dapat dilakukan dengan menggunakan node yang baru dan lama. Soft Fork hanya bisa terjadi apabila seluruh node melakukan konsensus mayoritas terlebih dahulu.

Aset Crypto Hasil Bitcoin Fork

Bitcoin Fork menghasilkan beberapa aset crypto, diantaranya yaitu:

Bitcoin Gold (BTG)

Bitcoin Gold (BTG) adalah bentuk hard fork dari Bitcoin. Aset kripto yang satu ini diluncurkan pada tanggal 24 Oktober 2017. Hard Fork biasanya terjadi karena sejumlah alasan.

Beberapa di antaranya adalah untuk meningkatkan skala seiring pertumbuhan pengguna aset kripto, konflik antar-developer, atau perbedaan tujuan. Alasan Bitcoin Gold diluncurkan adalah karena adanya keinginan untuk membuat Bitcoin terdesentralisasi kembali.

Walaupun kenyataannya, Bitcoin secara teknis memang sudah terdesentralisasi dan sistemnya sendiri tidak dikontrol oleh satu otoritas tertentu. Namun, terlepas dari itu, masih kekhawatiran dari beberapa pihak tentang metode verifikasi dari transaksi yang dilakukan.

Bitcoin Gold diciptakan agar semua orang bisa melakukan mining. Pengembang BTG berharap semua orang bisa yang melakukan mining. Tidak perlu memiliki peralatan khusus dan bisa menambang hanya melalui komputer biasa dengan bantu Graphic Processing Unit (GPU).

Sama seperti aset ‘indukannya’ Bitcoin. Bitcoin Gold memiliki suplai koin maksimum 21 juta. Selain itu fakta menariknya, berbeda dengan Bitcoin yang membutuhkan waktu kurang lebih 10 menit untuk sekali transaksi, Bitcoin Gold hanya membutuhkan waktu 2,5 menit saja. Jauh lebih hemat dan empat kali lebih cepat.

Perbedaan lainnya antara BTC dan BTG adalah proses proof-of-work yang digunakan penambang untuk melakukan verifikasi. PoW yang digunakan BTG sebenarnya hampir mirip dengan BTC, tetapi sudah dimodifikasi. Sehingga, penambang bisa melakukan mining hanya dengan GPU dan bukan Asic.

Bitcoin Cash (BCH)

Baik Bitcoin Cash maupun Gold, keduanya dikembangkan pada tahun 2017 sebagai bentuk fork dari aset digital Bitcoin. Alasan dari dibuatnya percabangan ini adalah karena biaya transaksi Bitcoin yang dirasa terlalu mahal.

Sebab, biaya transaksi mata uang Bitcoin pada tahun 2009 hanya berkisar kurang dari satu sen saja. Tetapi seiring meningkatnya popularitas BTC, biaya transaksinya pun ikut meninggi menjadi beberapa dolar AS per transaksi.

Ketika pertama kali diciptakan, Nakamoto membuat blok di dalam jaringan Bitcoin hanya memiliki kapasitas 1 MB saja. Saat itu, Nakamoto ingin agar Bitcoin terhindar dari penipuan. Sayangnya, kapasitas 1 MB ini kurang dapat memenuhi permintaan penggunannya.

Ketika adopsinya mulai meluas, durasi transaksi juga menjadi sangat lama. Banyaknya transaksi yang membutuhkan validasi membuat biaya yang dikeluarkan juga jadi lebih besar.

Oleh sebab itu, diluncurkan Bitcoin Cash (BCH) yang memiliki kapasitas lebih besar yaitu 8 MB sampai dengan 32 MB. Dengan begitu, transaksi jadi berjalan lebih cepat dan efektif.

Bitcoin Diamond (BCD)

Sejak diluncurkan pada November 2017, Bitcoin ini telah mendistribusikan koinnya melalui metode yang sedikit berbeda dengan Bitcoin Fork lainnya seperti Cash dan Gold.

Jika Bitcoin lainnya, menyesuaikan jumlah pada koin mereka sebesar 21 juta koin, sebaliknya Bitcoin Diamond malah meningkatkan jumlah koin mereka sampai dengan 10 kali lipat.

Akibatnya, jika kamu memiliki 0.5 BTC pada saat Bitcoin Fork terjadi, maka nantinya kamu akan mendapatkan 5 Bitcoin Diamond. Sama seperti Bitcoin Cash, ukuran blok Bitcoin diamond juga ditingkatkan menjadi 8 MB.

Bitcoin Forks Lainnya

Selain tiga aset kripto yang terbentuk dari hard fork di atas, ada juga beberapa hard fork lainnya yang menghasilkan eksperimen baru di dalam sistem Bitcoin, diantaranya:

  • Super Bitcoin: December 2017
  • Bitcoin Atom: January 2018
  • Bitcore: November 2017
  • Bitcoin God: December 2017
  • Bitcoin Private: January 2018
  • Bitcoin Zeo: September 2018
  • Bitcoin Post-Quantum: December 2018

Kesimpulan

Bitcoin Fork adalah percabangan yang terjadi dalam blockchain Bitcoin dan membentuk aset kripto baru. Fork memungkinkan pengembang membuat eksperimen dan pengembangan yang berbeda dalam sebuah platform.

Aset kripto yang terjadi akibat forking merupakan hasil alami dari struktur sistem blockchain yang terdesentralisasi. Ada dua jenis Bitcoin Fork – hard fork dan soft fork – masing-masing mempunyai fungsi dan cara kerja yang berbeda.

Adapun aset crypto yang dihasilkan dari Bitcoin Fork yaitu Bitcoin Gold, Bitcoin Cash, Bitcoin Diamond, serta Bitcoin Forks lainnya yang menghasilkan eksperimen baru di dalam sistem Bitcoin

Cek Berita dan Artikel Teknatekno.com Lainnya di Google News

Back to top button