Penjelasan Apa itu Crypto Winter dalam Kondisi Pasar Digital Crypto

Teknatekno.com – Hai Teknozen! Pernahkah kamu mendengar istilah apa itu crypto winter? Istilah crypto winter seringkali muncul di media sosial dan komunitas crypto, terutama ketika pasar crypto sedang lesu atau dalam kondisi yang kurang baik, terutama di pasar uang digital.

Lantas, sebenarnya apa itu crypto winter? Yuk simak penjelasan dari Teknatekno berikut ini mengenai apa itu crypto winter dan kapan crypto winter terjadi.

Mengenal Apa itu Crypto Winter

Crypto winter adalah istilah dalam dunia crypto untuk menyebut kondisi berkepanjangan ketika berbagai aset crypto mengalami penurunan harga yang signifikan di bawah tren bullish normal.

Brian Newar dari Cointelegraph menyebutkan bahwa istlah crypto winter mulai muncul ketika terjadi bear market berkepanjangan pada tahun 2018 hingga 2019 lalu

Co-founder dan mantan CEO bursa exchange BTCC, Bobby Lee, mengungkapkan bahwa selama masa crypto winter, nilai aset crypto seperti Bitcoin bisa turun hingga 80 sampai 90 persen dari harga puncak sebelumnya.

Mengenal Apa itu Crypto Winter

Kapan dan Berapa Lama Crypto Winter Terjadi?

Crypto winter adalah fenomena yang berlangsung dalam rentang waktu yang relatif lama. Bobby menyatakan, siklus pasar mega bull terjadi setiap empat tahun sekali dan diikuti dengan periode crypto winter seperti yang terjadi pada 2013 dan 2017.

Adapun istilah crypto winter pertama kali hadir pada 2018. Saat itu, harga bitcoin turun drastic di bawah USD 8.000 atau sekitar Rp 114,65 juta setelah sempat melonjak ke posisi USD 20.000 atau sekitar Rp 286,63 juta pada akhir 2017.

Pada crypto winter 2018, harga bitcoin turun sekitar 75 persen dari level harga tertingginya, harga ether susut sekitar 90 persen, dan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan merosot hingga 80 persen.

Selama crypto winter 2018, banyak proyek-proyek crypto yang mengalami performa yang mengecewakan. Hal tersebut berdampak pada penurunan jumlah transaksi di pasar crypto selama tahun 2018-2019.

Meskipun begitu, Michael J. Casey dari Coindesk justru menyebut periode tersebut menjadi pendorong untuk pengembangan teknologi dan inovasi proyek baru di ekosistem crypto.

Beberapa contoh proyek baru yang tercipta pada saat itu adalah proyek perintis game NFT CryptoKitties dan token MakerDAO yang melahirkan revolusi keuangan terdesentralisasi (DeFi).

Crypto Crash 2013

Crypto crash 2013 adalah salah satu periode downtrend harga Bitcoin yang terjadi dalam rentang waktu yang panjang. Ketika itu, harga Bitcoin meningkat drastis dari $13 di awal 2013 menjadi $1200 di akhir 2013.

Namun setelahnya, harga Bitcoin mengalami penurunan drastis hingga di bawah $300 dan membutuhkan waktu lebih dari 3 tahun untuk bisa kembali ke harga $1200 yang pernah dicapai sebelumnya di tahun 2013.

Ketika itu, istilah crypto winter memang belum ditemukan. Namun, terdapat pola yang serupa dengan crypto winter yang terjadi di tahun 2017-2018.

Crypto Winter 2017-2018

Istilah crypto winter pertama kali muncul pada tahun 2018. Ketika itu, harga Bitcoin turun drastis ke angka di bawah $8000 setelah sebelumnya sempat melonjak ke angka $20.000 pada akhir 2017.

Selama crypto winter 2018, Michael J. Casey melaporkan bahwa harga Bitcoin turun sekitar 75 persen dari level harga tertingginya, harga Ether turun sekitar 90 persen, dan kapitalisasi pasar crypto keseluruhan turun hingga 80persennya.

Prediksi Terjadinya Crypto Winter di 2021-2022

Penurunan harga Bitcoin hingga mencapai angka $30.000 pada bulan Juni 2021 membuat banyak orang percaya bahwa fenomena ini adalah awal baru dari crypto winter. Pasalnya, hanya dalam waktu dua bulan, harga Bitcoin telah merosot hampir 50% setelah mencapai angka $64.863 pada awal April 2021 lalu.

Namun, Jason Deane, analis pasar finansial dan cryptocurrency di Quantum Economics dan ahli lainnya menyangkal tentang prediksi crypto winter yang diperkirakan terjadi pada 2021 dan 2022.

Ia menyatakan bahwa investor tidak perlu bereaksi berlebihan pada penurunan harga Bitcoin jangka pendek, sebab tren harga tersebut akan membaik dalam beberapa waktu ke depan.

Mati Greenspan, manajer portofolio dan pendiri Quantum Economics, menambahkan bahwa crypto winter diperkirakan tidak akan terjadi lagi di masa depan.

Pasalnya, industri crypto telah mengalami peningkatan yang masif dari segi utilitas, adopsi, diversifikasi, dan keamanan blockchain jika dibandingkan dengan kondisi pada tahun 2014 atau 2018.

CTO dari QuikNode yang menyediakan infrastruktur blockchain juga berpendapat bahwa harga aset crypto selama beberapa tahun ke depan akan relatif stabil dan mengikuti pola sebelumnya. Harga crypto akan naik lebih tinggi dari level harga tertinggi sebelumnya dan menjadi harga normal baru selama beberapa tahun setelahnya.

Kesimpulan

Crypto winter adalah istilah dalam dunia crypto untuk menyebut kondisi berkepanjangan ketika berbagai aset crypto mengalami penurunan harga yang signifikan di bawah tren bullish normal.

Adapun istilah crypto winter pertama kali hadir pada 2018. Saat itu, harga bitcoin turun drastic di bawah USD 8.000 atau sekitar Rp 114,65 juta setelah sempat melonjak ke posisi USD 20.000 atau sekitar Rp 286,63 juta pada akhir 2017.

Related Articles

Back to top button